
I’m Not Perfect, and I Proud of It
Cantik? Apa sih istimewanya kata ini, hingga kaum hawa selalu memburunya? Sejauh ini, bicara soal cantik, pasti stressing-nya pada fisik. Lebih spesifik lagi, kalo boleh saya bilang, cantik sekarang identik dengan…well, coba deh saya urai satu persatu:
1. Postur langsing semampai
2. Kulit putih bersih
3. Rambut hitam menjuntai panjang (at least sepunggung), dan lurus…rus (pantes aja rebonding dan alat catok rambut laris manis bak kacang rebus)
4. Hidung mancung, alis mirip bulan sabit, bibir seksi, dan wajah indo.
5. Mmm…kalo masih bingung, tengok aja iklan-iklan shampoo atau produk pemutih. Modelnya pasti punya kriteria fisik seperti yang udah saya jabarin di atas. Dan tentunya sih, mereka pasti punya rambut panjang, hitam dan lurus!
Kecantikan punya definisi beragam di mata publik. Dipungkiri atau nggak, lima ciri di atas seolah jadi harga mati dalam hal mengartikan makna cantik. Sebenernya, gimana sih sejarahnya, kok kita bisa dengan culun dan picik menyebut cantik sama dengan lima point di atas? Kalo mau ekstrim sih, saya akan menyalahkan industri kapitalis deh. Kenapa? Hanya karena demi keuntungan saja, mereka akhirnya mendoktrinasi kita dengan mendefinisikan kecantikan yang terbingkai oleh lima kriteria itu.
Ya, seperti yang udah saya bilang tadi. Jarang kan iklan sabun mandi, lotion pemutih, shampoo, bahkan mobil, selalu memakai model cewek bertampang standar dengan rambut pendek. Kalo melongok majalah model luar negeri sih, mungkin kita masih menjumpai sosok model yang nggak berkulit putih. Kayak Tyra Banks, Naomi Campbell, atau Imam, istrinya David Bowie, yang bener-bener super keling. Namun perlu diingat, mereka itu supermodel papan atas dunia yang punya body tipis. Akhirnya, meski mereka nggak berkulit putih, tapi karena langsing, langsung deh dijadiin selling point buat mendongkrak penjualan suatu produk
Padahal nih, beberapa ratus tahun yang lalu, perempuan itu dikatakan cantik jika si dia punya tubuh yang ndut. Kegemukan tubuh mereka adalah simbol dari status sosialnya. Semakin melar, berarti hidup mereka makmur. Dan orang yang hidup makmur itu, pastinya adalah orang bangsawan. Coba deh liat lukisan Monalisa-nya Leonardo DaVinci. Seperti halnya Natalie Glebova, si Miss Universe 2005, Monalisa dipandang sebagai wanita tercantik, meski lengannya mirip para kontestan di Gelar Panco Indosiar, dan pipinya setembem Tika Pangabean.
Tau-tau, persepsi akan cantik mengalami pergeseran. Cantik yang tadinya harus punya tubuh gendut, sekarang menjadi cantik harus punya perut rata, pinggul berisi, kaki jenjang… pokoknya kudu kayak gitar spanyol deh. Itulah yang mendorong para cewek berlomba-lomba menurunkan berat badan mereka. Bahkan, saking giatnya, cara segila apapun tetep dijalani. Konsekuensinya, bulimia dan anoreksia nervosa menimpa mereka. Dan jika ini dibiarkan terus-terusan, kematian akhirnya jadi akhir “perjuangan” mereka dalam meraih berat badan proporsional.
Dari situ, istilah inner beauty lantas mencuat. Istilah yang makna harfiahnya kecantikan dari dalam ini, seolah jadi satu-satunya mata air di padang gurun, sangat menyejukkan dan menentramkan buat jiwa mereka-mereka yang ngerasa nggak cantik karena nggak punya tubuh langsing. Berbagai artikel psikologi mengupas habis soal inner beauty. Apa itu inner beauty, seberapa penting nilai guna dari konsep itu, dan gimana cara mempotensialkan inner beauty.
Menurut para ahli, tiap orang sebenernya punya inner beauty, hanya saja tiap individu punya takaran sendiri-sendiri dalam mempotensialkan hal itu. Mereka lantas bilang, bahwa inner beauty itu sebenernya lebih penting daripada outer beauty. Really? Memang seharusnya begitu, tapi prakteknya? Susah banget mengandalkan inner beauty untuk bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, misalnya menggamit cowok ganteng, apalagi yang tajir. Tentunya, jika seseorang dalam kondisi finansial berlebih, mereka pasti akan dengan mudah mendapatkan pasangan yang almost perfect dong.
Tapi, apakah pasangan mereka yang nyaris sempurna itu bener-bener mencintai si cowok or cewek tajir, tanpa TENDENSI dan tanpa PRETENSI? Kalo emang motivasinya bener-bener uang, kasihan banget tuh cowok or cewek yang dimatre’in. Alih-alih mau ngedapetin soulmate, eh, malah diporotin. Hanya saja, mungkin persoalannya bakal lain jika si tajir tetep cuek meski sadar dirinya ditipu secara halus. Jelasnya, dia bersikap masa bodoh dan mengesampingkan loyalitas pasangannya, karena selama duitnya berbicara, dia oke-oke aja tuh jika pacar/ istri/ suaminya yang cakep mencintainya hanya karena rupiah. Lalu, cinta & loyalitas? Kan udah bertransformasi jadi nafsu dan uang….!
Kembali ke inner beauty, nih. Nyatanya mengedepankan inner beauty emang nggak semudah teorinya. Kalo ada yang bilang fisik bukan penunjang utama, rasanya bull shit banget. Coba deh, siapa yang nggak mau punya pasangan yang asyik dilihat, dan udah berapa kali kita mendapati iklan lowongan kerja yang menyertakan syarat “penampilan menarik”.
Meski istilah “penampilan menarik” terasa kurang spesifik, namun frase itu jelas sekali mengartikan bahwa kita harus cantik saat akan melamar pekerjaan itu. Cantik yang seperti apa? Ya, tentu saja seperti yang sudah saya jelentrehkan di atas tadi, harus langsing, putih, mancung, rambut e dowo tur lurus dan warnane ireng, ya..kalo kaitannya sama rekruitmen karyawan baru, selain cantik juga harus punya wawasan lumayan luas. Lalu, untuk wanita yang agak gembrot, kulitnya cokelat, rambutnya pendek & keriting, dan hidung agak pesek, apa tidak boleh disebut cantik?
Saya adalah sample dari kategori bukan yang cantik Saya little bit montok. Teman saya, Mas Wiwien selalu nyelatuk kalo lengan saya mirip Mr Algojo di Gelar Panco Indosiar (dia bilang seperti itu sambil menggulung ke atas lengan bajuku, so keliatan deh lenganku yang gede). Rambut saya tipis, ikal dan panjangnya nggak sampai punggung, hidung saya yang mancung cuma ujungnya thok, kulit saya cokelat, alis saya bentuknya bukan seperti bulan sabit, tapi bulan kesiangan alias nggak beraturan, dan…saya punya bokong seperti dua buah bola bowling yang disatukan! Oops….!
Dengan ciri fisik seperti itu, udah jelas saya nggak masuk kriteria cantik kan? Dan jika biasanya seorang yang cantik itu biasanya akan mendapatkan sesuatu yang indah (pacar ganteng & kaya, selalu dipuji, diterima banyak orang, dll). So pasti karena saya nggak termasuk cantik berarti saya nggak berhak dong menikmati segala keindahan dan kebahagiaan?
Tapi nyatanya, kendati tubuhku nggak setipis Gisele Bunchen (calonnya Leonardo DiCaprio, neeh), rambutku nggak seindah rambutnya Asty Ananta, dan kulitku nggak semulus Julianne More, tapi saya tetap dihujani kasih sayang dan cinta yang tulus dari banyak orang. Dan yang lebih penting lagi, pacar saya tetap antusias memberi ciuman terhangatnya di bibir saya yang agak ndower ini. Dan satu hal yang membuat saya mulai menghargai diri sendiri adalah, ternyata saya punya sense of humor yang lumayan. Seneng rasanya bisa bikin orang lain tertawa lepas (Lilis, udah berapa kali lipat aku bikin kamu terpingkal-pingkal sambil megang perut, Mas Dwi Nr, sering kan kamu malah ketawa tiap aku memanuvermu dengan ejekan2 yang sebenernya kelewat ekstrim?).
Akhirnya saya sadar, seberapa besar upaya kita mempercantik diri, dengan memakai kosmetik brand terkenal, atau mati-matian nurunin berat badan, bahkan kalo ada kesempatan, ikut kontes SWAN (reality show di Amrik tentang revolusi besar-besaran fisik kita, dengan bedah plastik yang tentu aja masa recovery-nya nyiksa banget = rasa sakitnya luar biasa, lho), kita akan tetap feel nothing terhadap diri sendiri kalo kita nggak meng-create rasa cinta diri sendiri. Dalam hal ini, sebenernya pasangan punya peran besar untuk menjadikan kita sebagai orang yang nggak hanya meletakkan kesempurnaan fisik aja sebagai major priority.
Jika pacar, atau suamimu mau menerima kamu apa adanya, berarti dia turut membantu meningkatkan self esteem (harga diri) kamu. Jika kita ngerasa self esteem kita terangkat, pastinya kita akan berani mengatakan : “I’m not perfect, and I proud of it”, dengan lantang dan kepala menengadah.
Aku sangat berterima kasih dengan Mas Sigit, yang setiap tatapan hangat matanya padaku seolah berkata, “Nana, I love you just the way you are.” Aku tahu kamu akan tetap merangkulkan lenganmu ke tubuhku, telapak tanganmu akan selalu mengusap wajah dan mengacak lembut kepalaku, bibirmu akan senantiasa membanjiriku dengan kecupan lembut, meski lima tahun ke depan, bentuk bokong dan pahaku makin nggak beraturan. Cintaku padamu mungkin nggak sebesar cintamu padaku. Tapi aku percaya, suatu saat nanti…setiap jengkal nafasku, setiap detak urat nadiku, pasti akan terisi oleh sosokmu. Ini hanya persoalan waktu saja.
See…meski saya jauh dari kesempurnaan, saya tetap bisa bahagia. Everyone deserve to be happy, termasuk mereka yang punya bokong gede…..So, find your happiness…!!!
PS:
1. Lima kriteria tentang cantik yang saya gembar-gemborkan tadi menurut saya lebih pantes disebut INDAH. Dan yang indah itu nggak sepenuhnya menyenangkan. Bayangin, gimana kecewanya kamu ketika kamu mendapati sebuah apel yang mulus ternyata setelah digigit dalamnya banyak ulatnya. Bandingkan dengan jeruk Kalimantan yang kulitnya bersisik, namun memberikan rasa manis luar biasa. Kamu pasti gondok berat kan dengan apel mulus yang ternyata busuk itu. Dan jeruk Kalimantan itu adalah refleksi dari “sesuatu yang berantakan di luar, belum tentu bobrok di dalamnya”. Jadi, jangan abaikan ungkapan don’t judge the book by its cover, ya!
2. Someday, ketika kamu udah berhasil mematahkan stigma tentang arti cantik yang menjerumuskan itu, bukan tidak mungkin kamu menyebut si A cantik dari caranya mengunyah makanan, memuji si B cantik dari caranya menggosok gigi, bahkan dengan semangat dan percaya diri kamu akan bilang pada seseorang, “Aku suka lihat kamu pas nyengir. Kamu keliatan cantik pada saat itu”.
