Monday, October 17, 2005


I’m Not Perfect, and I Proud of It

Cantik? Apa sih istimewanya kata ini, hingga kaum hawa selalu memburunya? Sejauh ini, bicara soal cantik, pasti stressing-nya pada fisik. Lebih spesifik lagi, kalo boleh saya bilang, cantik sekarang identik dengan…well, coba deh saya urai satu persatu:
1. Postur langsing semampai
2. Kulit putih bersih
3. Rambut hitam menjuntai panjang (at least sepunggung), dan lurus…rus (pantes aja rebonding dan alat catok rambut laris manis bak kacang rebus)
4. Hidung mancung, alis mirip bulan sabit, bibir seksi, dan wajah indo.
5. Mmm…kalo masih bingung, tengok aja iklan-iklan shampoo atau produk pemutih. Modelnya pasti punya kriteria fisik seperti yang udah saya jabarin di atas. Dan tentunya sih, mereka pasti punya rambut panjang, hitam dan lurus!

Kecantikan punya definisi beragam di mata publik. Dipungkiri atau nggak, lima ciri di atas seolah jadi harga mati dalam hal mengartikan makna cantik. Sebenernya, gimana sih sejarahnya, kok kita bisa dengan culun dan picik menyebut cantik sama dengan lima point di atas? Kalo mau ekstrim sih, saya akan menyalahkan industri kapitalis deh. Kenapa? Hanya karena demi keuntungan saja, mereka akhirnya mendoktrinasi kita dengan mendefinisikan kecantikan yang terbingkai oleh lima kriteria itu.
Ya, seperti yang udah saya bilang tadi. Jarang kan iklan sabun mandi, lotion pemutih, shampoo, bahkan mobil, selalu memakai model cewek bertampang standar dengan rambut pendek. Kalo melongok majalah model luar negeri sih, mungkin kita masih menjumpai sosok model yang nggak berkulit putih. Kayak Tyra Banks, Naomi Campbell, atau Imam, istrinya David Bowie, yang bener-bener super keling. Namun perlu diingat, mereka itu supermodel papan atas dunia yang punya body tipis. Akhirnya, meski mereka nggak berkulit putih, tapi karena langsing, langsung deh dijadiin selling point buat mendongkrak penjualan suatu produk
Padahal nih, beberapa ratus tahun yang lalu, perempuan itu dikatakan cantik jika si dia punya tubuh yang ndut. Kegemukan tubuh mereka adalah simbol dari status sosialnya. Semakin melar, berarti hidup mereka makmur. Dan orang yang hidup makmur itu, pastinya adalah orang bangsawan. Coba deh liat lukisan Monalisa-nya Leonardo DaVinci. Seperti halnya Natalie Glebova, si Miss Universe 2005, Monalisa dipandang sebagai wanita tercantik, meski lengannya mirip para kontestan di Gelar Panco Indosiar, dan pipinya setembem Tika Pangabean.
Tau-tau, persepsi akan cantik mengalami pergeseran. Cantik yang tadinya harus punya tubuh gendut, sekarang menjadi cantik harus punya perut rata, pinggul berisi, kaki jenjang… pokoknya kudu kayak gitar spanyol deh. Itulah yang mendorong para cewek berlomba-lomba menurunkan berat badan mereka. Bahkan, saking giatnya, cara segila apapun tetep dijalani. Konsekuensinya, bulimia dan anoreksia nervosa menimpa mereka. Dan jika ini dibiarkan terus-terusan, kematian akhirnya jadi akhir “perjuangan” mereka dalam meraih berat badan proporsional.
Dari situ, istilah inner beauty lantas mencuat. Istilah yang makna harfiahnya kecantikan dari dalam ini, seolah jadi satu-satunya mata air di padang gurun, sangat menyejukkan dan menentramkan buat jiwa mereka-mereka yang ngerasa nggak cantik karena nggak punya tubuh langsing. Berbagai artikel psikologi mengupas habis soal inner beauty. Apa itu inner beauty, seberapa penting nilai guna dari konsep itu, dan gimana cara mempotensialkan inner beauty.
Menurut para ahli, tiap orang sebenernya punya inner beauty, hanya saja tiap individu punya takaran sendiri-sendiri dalam mempotensialkan hal itu. Mereka lantas bilang, bahwa inner beauty itu sebenernya lebih penting daripada outer beauty. Really? Memang seharusnya begitu, tapi prakteknya? Susah banget mengandalkan inner beauty untuk bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, misalnya menggamit cowok ganteng, apalagi yang tajir. Tentunya, jika seseorang dalam kondisi finansial berlebih, mereka pasti akan dengan mudah mendapatkan pasangan yang almost perfect dong.
Tapi, apakah pasangan mereka yang nyaris sempurna itu bener-bener mencintai si cowok or cewek tajir, tanpa TENDENSI dan tanpa PRETENSI? Kalo emang motivasinya bener-bener uang, kasihan banget tuh cowok or cewek yang dimatre’in. Alih-alih mau ngedapetin soulmate, eh, malah diporotin. Hanya saja, mungkin persoalannya bakal lain jika si tajir tetep cuek meski sadar dirinya ditipu secara halus. Jelasnya, dia bersikap masa bodoh dan mengesampingkan loyalitas pasangannya, karena selama duitnya berbicara, dia oke-oke aja tuh jika pacar/ istri/ suaminya yang cakep mencintainya hanya karena rupiah. Lalu, cinta & loyalitas? Kan udah bertransformasi jadi nafsu dan uang….!
Kembali ke inner beauty, nih. Nyatanya mengedepankan inner beauty emang nggak semudah teorinya. Kalo ada yang bilang fisik bukan penunjang utama, rasanya bull shit banget. Coba deh, siapa yang nggak mau punya pasangan yang asyik dilihat, dan udah berapa kali kita mendapati iklan lowongan kerja yang menyertakan syarat “penampilan menarik”.
Meski istilah “penampilan menarik” terasa kurang spesifik, namun frase itu jelas sekali mengartikan bahwa kita harus cantik saat akan melamar pekerjaan itu. Cantik yang seperti apa? Ya, tentu saja seperti yang sudah saya jelentrehkan di atas tadi, harus langsing, putih, mancung, rambut e dowo tur lurus dan warnane ireng, ya..kalo kaitannya sama rekruitmen karyawan baru, selain cantik juga harus punya wawasan lumayan luas. Lalu, untuk wanita yang agak gembrot, kulitnya cokelat, rambutnya pendek & keriting, dan hidung agak pesek, apa tidak boleh disebut cantik?
Saya adalah sample dari kategori bukan yang cantik Saya little bit montok. Teman saya, Mas Wiwien selalu nyelatuk kalo lengan saya mirip Mr Algojo di Gelar Panco Indosiar (dia bilang seperti itu sambil menggulung ke atas lengan bajuku, so keliatan deh lenganku yang gede). Rambut saya tipis, ikal dan panjangnya nggak sampai punggung, hidung saya yang mancung cuma ujungnya thok, kulit saya cokelat, alis saya bentuknya bukan seperti bulan sabit, tapi bulan kesiangan alias nggak beraturan, dan…saya punya bokong seperti dua buah bola bowling yang disatukan! Oops….!
Dengan ciri fisik seperti itu, udah jelas saya nggak masuk kriteria cantik kan? Dan jika biasanya seorang yang cantik itu biasanya akan mendapatkan sesuatu yang indah (pacar ganteng & kaya, selalu dipuji, diterima banyak orang, dll). So pasti karena saya nggak termasuk cantik berarti saya nggak berhak dong menikmati segala keindahan dan kebahagiaan?
Tapi nyatanya, kendati tubuhku nggak setipis Gisele Bunchen (calonnya Leonardo DiCaprio, neeh), rambutku nggak seindah rambutnya Asty Ananta, dan kulitku nggak semulus Julianne More, tapi saya tetap dihujani kasih sayang dan cinta yang tulus dari banyak orang. Dan yang lebih penting lagi, pacar saya tetap antusias memberi ciuman terhangatnya di bibir saya yang agak ndower ini. Dan satu hal yang membuat saya mulai menghargai diri sendiri adalah, ternyata saya punya sense of humor yang lumayan. Seneng rasanya bisa bikin orang lain tertawa lepas (Lilis, udah berapa kali lipat aku bikin kamu terpingkal-pingkal sambil megang perut, Mas Dwi Nr, sering kan kamu malah ketawa tiap aku memanuvermu dengan ejekan2 yang sebenernya kelewat ekstrim?).
Akhirnya saya sadar, seberapa besar upaya kita mempercantik diri, dengan memakai kosmetik brand terkenal, atau mati-matian nurunin berat badan, bahkan kalo ada kesempatan, ikut kontes SWAN (reality show di Amrik tentang revolusi besar-besaran fisik kita, dengan bedah plastik yang tentu aja masa recovery-nya nyiksa banget = rasa sakitnya luar biasa, lho), kita akan tetap feel nothing terhadap diri sendiri kalo kita nggak meng-create rasa cinta diri sendiri. Dalam hal ini, sebenernya pasangan punya peran besar untuk menjadikan kita sebagai orang yang nggak hanya meletakkan kesempurnaan fisik aja sebagai major priority.
Jika pacar, atau suamimu mau menerima kamu apa adanya, berarti dia turut membantu meningkatkan self esteem (harga diri) kamu. Jika kita ngerasa self esteem kita terangkat, pastinya kita akan berani mengatakan : “I’m not perfect, and I proud of it”, dengan lantang dan kepala menengadah.
Aku sangat berterima kasih dengan Mas Sigit, yang setiap tatapan hangat matanya padaku seolah berkata, “Nana, I love you just the way you are.” Aku tahu kamu akan tetap merangkulkan lenganmu ke tubuhku, telapak tanganmu akan selalu mengusap wajah dan mengacak lembut kepalaku, bibirmu akan senantiasa membanjiriku dengan kecupan lembut, meski lima tahun ke depan, bentuk bokong dan pahaku makin nggak beraturan. Cintaku padamu mungkin nggak sebesar cintamu padaku. Tapi aku percaya, suatu saat nanti…setiap jengkal nafasku, setiap detak urat nadiku, pasti akan terisi oleh sosokmu. Ini hanya persoalan waktu saja.
See…meski saya jauh dari kesempurnaan, saya tetap bisa bahagia. Everyone deserve to be happy, termasuk mereka yang punya bokong gede…..So, find your happiness…!!!

PS:
1. Lima kriteria tentang cantik yang saya gembar-gemborkan tadi menurut saya lebih pantes disebut INDAH. Dan yang indah itu nggak sepenuhnya menyenangkan. Bayangin, gimana kecewanya kamu ketika kamu mendapati sebuah apel yang mulus ternyata setelah digigit dalamnya banyak ulatnya. Bandingkan dengan jeruk Kalimantan yang kulitnya bersisik, namun memberikan rasa manis luar biasa. Kamu pasti gondok berat kan dengan apel mulus yang ternyata busuk itu. Dan jeruk Kalimantan itu adalah refleksi dari “sesuatu yang berantakan di luar, belum tentu bobrok di dalamnya”. Jadi, jangan abaikan ungkapan don’t judge the book by its cover, ya!
2. Someday, ketika kamu udah berhasil mematahkan stigma tentang arti cantik yang menjerumuskan itu, bukan tidak mungkin kamu menyebut si A cantik dari caranya mengunyah makanan, memuji si B cantik dari caranya menggosok gigi, bahkan dengan semangat dan percaya diri kamu akan bilang pada seseorang, “Aku suka lihat kamu pas nyengir. Kamu keliatan cantik pada saat itu”.

Monday, September 26, 2005


PKL Freaks.......!!!!!



Inilah wajah-wajah mesum, eh...maksudnya wajah polos para mahasiswa magang (PKL) yang menimba ilmu di redaksi tren, Kaligawe Semarang. Kebanyakan sih, pos PKL dihuni oleh mahsiswa Undip. Tapi periode 15 Juni-15Agustus lalu, PKL malah justru dibanjiri ama anak-anak UNNES (Universitas Negeri Semarang). kayak Peny si gadis jilbab, alias Anoman obong, Budi alias Gollum/ Semeagol, dan juga Eny. Tapi ada juga ding, dua mahasiswa Indonusa Solo yang diwakili oleh Vina dan Prapti. pada periode ini, Undip hanya mengirimkan 1 wakil aja, yaitu JULIA Panggabean... Aku, selaku awak tren yang paling dicintai (ehem...narsis dikit lah) dan paling loveable di mata mereka, ikut berpose ceria menjelang masa tugas kroco2 PKL itu berakhir. ternyata, meski kadang bikin ribet, fenomena PKL selalu memberi warna bagi redaksi tren yang letaknya terpencil dan rawan banjir ini... Go PKL.....



ket poto:
dari kiri ke kanan: eny, peny, prapti, nana, budi, vina, budi gollum

Wednesday, September 21, 2005


Sebuah Keindahan dari Prancis

Produk: VCD
Judul: A Very Long Engagement
Pemain: Audrey Tautou, Gaspard Ulliel, Jodie Foster, Dominique Pinon, Chantal Neuwirth
Sutradara: Jean-Pierre Jeunet
Genre: Drama/comedy/romance/mystery/war
Durasi: 133 menit
Distributor: Warner Independent Pictures
Rilis: 26 November 2004

Verdict: B+

Keyakinan adalah model dari keberhasilan suatu usaha. Kemantapan hati inilah yang mendorong Mathilde (Audrey Tautou) menemukan kembali soulmate-nya, Manech (Gaspard Ulliel). Padahal, Mathilde nggak mendapat dukungan penuh dari keluarga dan sahabat-sahabatnya. Mereka justru mencoba meyakinkan Mathilde, bahwa Manech yang bertempur di medan perang Somme dan diancam hukuman mati itu udah bener-bener tinggal nyawa. Menyerahkan Mathilde?
Mathilde benar-benar nekat. Gadis pincang sebatang kara ini sejak pertama diberi kabar tentang ketidakjelasan nasib sang pacar, tetep merasa yakin kalo Manech masih hidup. Jangankan menangis atau mengurung diri dalam kamar, begitu sampai di rumah, doi melihat satu per satu barang dari lima tentara (termasuk pacarnya) yang akan dieksekusi. Dari barang-barang itu, Mathilde lantas memantapkan hati untuk menjadi detektif, melacak keberadaan Manech.
Langkah awal yang ditempuhnya adalah menyewa seorang detektif swasta bernama German Pierre (Tiky Holgano). Dari German yang langsung memasang tarif kecil pada Mathilde setelah melihat kemiripannya dengan putri semata wayangnya yang sama-sama menderita polio, Mathilde menemukan beberapa alamat dari orang yang disinyalir bisa membukakan langkahnya lebih lebar untuk mendapatkan Manech.
Pertama, German melacak keberadaan Tina Lombardi (Marion Cotilard), pelacur yang jadi kekasih Ange Bassignano (Dominique Bettenfeld), salah satu serdadu yang juga diancam hukuman mati. Tina sendiri di suatu tempat telah membunuh dua orang pria yang dianggap telah menghabisi kekasihnya dengan memanfaatkan kecantikannya.
Balas Dendam
Pada dasarnya Tina dan Mathilde punya obsesi yang sama, menemukan kekasih mereka. Karena Tina mengetahui bahwa Ange meninggal bukan karena dieksekusi tapi dibunuh, doi jadi membalas dendam. Sementara itu Mathilde, meski memiliki keterbatasan, menggunakan intuisinya untuk melanjutkan perjuangan.
Sampailah ia pada Benoit Notre-Dame (Clovis Cornilac), petani yang direkrut menjadi tentara, dan juga teman seperjuangan Manech. Awalnya, Benoit akan membunuh Mathilde.
Itu bermula saat Mathilde memasang iklan untuk mencari Celeste Poux, tukang masak yang selalu melayani Manech dan teman-temannya. Lewat Celeste, Mathilde diajak ke Bingo Capescule, tanah tak bertuan tempat lima tentara tereksekusi dilihat oleh para saksi mata tewas karena serangan tentara Jerman.
Benoit memberi tahu Mathilde bahwa Manech memang masih hidup. Hanya saja, kalung Manech yang jadi identitasnya ditukarkan dengan kalung prajurit yang tewas. Karena itu, Mathilde mendapat kabar jika kekasihnya itu meninggal.
Manech yang selamat namun amnesia total akhirnya diasuh oleh ibu dari prajurit yang kalung identitasnya diganti. Pertemuan antara Mathilde dan Manech di bagian ending menjadi scene yang mengharukan di film ini. Nggak ada adegan klise kayak kedua orang tokoh utamanya berciuman di pinggir (atau tengah) jalan kayak di film-film komedi romantis Hollywood masa kini.
Mathilde hanya duduk di hadapan Manech yang sama sekali nggak mengenalinya. Terdiam dan terus memandang, memancarkan perasaan leganya, meski dirinya sadar harus mengembalikan perasaan cinta Manech pada dirinya yang hilang karena amnesia.
Pertemuan Kedua
Film ini merupakan pertemuan kedua Audrey Tautou dengan Jean-Pierre Jeunet. Sebelumnya, keduanya kerja bareng di film Amelie. A Very Long Engagement yang di negara asalnya, Prancis, dikasih judul Un long Dimanche de fiancailles ini diangkat dari sebuah novel populer karangan Sebastian Japrisot.
Film ini berlatar belakang akhir Perang Dunia I di Prancis, antara tahun 1916 hingga 1920. Pada masa itu, di Somme, pasukan Prancis terlibat pertempuran dahsyat di parit-parit melawan tentara Jerman.
Apa yang dapat kita nikmati dalam A Very Long Engagement adalah sebuah tontonan yang sangat nggak biasa. Jean ngasih kita banyak hal sekaligus. Ya drama, ya komedi, ya misteri, ya romance, ya peperangan, pokoknya komplet plet berasa kayak lagi ada di mal.
Nggak hanya itu, mata kita juga dimanja oleh rangkaian gambar yang puitis, indah, dan dibuat dengan cita rasa tinggi. Tengok adegan saat Manech kecil menggendong Mathilde kecil menaiki ratusan jenjang telundakan menuju puncak mercusuar. Atau saat keduanya kejar-kejaran di mercusuar dan Jean mengabadikannya dengan sudut kamera bird’s eye sehingga memunculkan efek dan kesan yang sangat spektakuler.
Intinya, kalo cuman sekadar ingin hiburan ringan pengisi waktu senggang (atau waktu kencan!), film-film “pop corn” Hollywood dengan bintang Vin Diesel, Lindsay Lohan, atau Hilary Duff udah cukup memenuhi kebutuhan kita.Tapi kalo pengin sesuatu yang cerdas dan membuat mata, hati, serta otak kamu terisi sesuatu yang nggak akan hilang dalam waktu lama, film-film kayak A Very Long Engagement ini adalah pilihan yang sangat cerdas pula!

Thursday, August 18, 2005


Inilah Aku....

Foto ini diambil oleh Aul, salah satu anak PKL dari Undip yang magang di tren pada bulan Januari lalu. Di situ aku keliatan ndut ya? (emang...). Pengin sih bisa langsing, tapi setiap nyoba berdiet, malah berat badan naik terus. piye jal????

My Lovely Acok Acok adalah kucing kesayangan keluargaku. Hanya aku dan Masku yang nomor dua yang paling dekat sama kucing ini. Sejak Acok kecil, dan aku juga waktu itu masih kecil, aku merasakan ada chemistry sama kucing itu. Acok emang bukan kucing biasa. Pas aku menangis meraung-raung karena diteot ibu (nggak mau tidur siang), Acok mesti menamin aku. Tapi pernah ding, pas aku tidur, hidungku digigit sama dia. O, ternyata Acok ngantuk dan pengin dielus-elus. Sayang, persahabatanku dengan Acok cuma bertahan tiga tahun aja. Suatu malam, pas ibu tumbas wedang ronde, Acok ikutan keluar. Nggak tau kenapa, dia nggak mau masuk rumah lagi, tapi malah tiduran di jalan. Selang dua atau tiga jam, tetanggaku mengetuk rumah. Dia bilang mobilnya baru aja melindas Acok. Aku nangis terus, sedih, tapi juga ngerasa nggak enak karena aku nggak mau membenci tetanggaku. Tiap pulang sekolah, aku mesti nyari kembang dulu, buat kutaruh di kuburannya Acok di belakang rumah. Meski kejadiannya udah 13 tahun yang lalu, tapi Acok tetep aku anggap sebagai kucing termanis yang pernah aku pelihara. ACOK……I MISS U……….huuuu……!

Friday, August 05, 2005

Aloha...
Hi...I'm Nana
Dalam keseharian aku kerja sebagai salah satu staf redaksi di tabloid remaja di Semarang bertajuk "tren". Aku mulai gabung di tren sejak empat tahun yang lalu, tepatnya sekitar pertengahan Maret 2001 (tanggalnya aku lupa, kalo tanggal gajian sih inget terussssss...). Aku pernah dipanggil Nana Arkarna karena aku dianggap teman-teman kantor sebagai penggemar berat Arkarna. Padahal neh, aku asli nggak ngefans abis ama band beraliran techno rock itu. Hanya saja, profil Arkarna lah yang pertama aku tulis di tren.
Alloha....
Well...inilah blog-ku, yang masih.. masih sangat simpel. Aku, bisa kamu panggil Nana, adalah salah satu staf redaksi di sebuah tabloid remaja di Semarang. Dalam keseharianku, nyaris nggak ada sesuatu yang spesial banget yang kudu kulakukan. Saban hari aku harus meluncur ke kawasan Jalan Kaligawe yang selalu akrab dengan macet dan banjir itu untuk bekerja. Begitu masuk kantor, komputer langsung di-on, then tik...tik... aku kerja. tujuh atau delapan jam kemudian baru aku cabut dari rumah, menjadi seorang Nana yang tenang dan nggak heboh saat di kantor. Dari lima hari kerja, aku paling giat-giatnya pas hari Senin, Selasa dan Rabu. Khusus untuk Rabu, karena deadline, suasana di kantor sangat "hectic" banget. Karena itu proyek skripsiku yang tinggal bab pembahasan jadi terbengkalai. Nggak jarang kita pulang pagi karena deadline. But, it's no a big deal. Meski cabut sekitar jam 3 pagi, aku tetep bugar karena selalu transit bentar di simpang lima, nongkrong di warung pecelnya Yu Sri. Dan aku cuma bisa bilang....Lembur IS THE BEST!!!!! BEGADANG IS THE VERY BESTTTTTTT!.....